Oleh Siti Maemunah Mampang
Sebelumnya, saya tak pernah berhasil membayangkan sedahsyat apa ledakan sebuah bom atom. Di bangku Sekolah Menengah, pertama kalinya saya berkenalan dengan cerita bom atom pertama didunia yang meledak di Jepang, tepatnya di kota Hiroshima dan Nagasaki, pada bulan Agustus 1945. Bom yang dinamai “Little Boy” oleh pembuatnya - Amerika Serikat, meluluh lantakkan kota tersebut.
Pagi ini, setelah membaca “Hiroshima” karya John Hersey, bacaan wajib sebelum mengikuti kelas kursus menulis malam nanti. Saya jadi bergidik membayangkan bagaimana kematian, kesakitan hingga depresi jangka panjang dialami oleh penduduk Hiroshima akibat ulah "paman Sam" dan “Little Boy”nya ini.
“Hiroshima” menceritakan apa yang terjadi di kota Hiroshima akibat bom atom dijatuhkan. Hersey menceritakannya dengan detil menawan, dari sudut pandang dan kejadian yang dialami enam warga kota tersebut. Mereka adalah perempuan lajang karyawan Departemen Asia Tin Workers, dokter yang memiliki sebuah Rumah Sakit swasta, janda seorang penjahit, pendeta asal Jerman, karyawan sebuah Rumah Sakit dan seorang Pastor.
Tulisan di mulai dengan menggambarkan kegiatan yang dilakukan oleh enam warga tersebut, beberapa jam menjelang bom di jatuhkan di kota mereka. Cerita mengalir bagaikan adegan-adegan film, memaparkan apa yang mereka alami dan rasakan disaat hingga setelah bom meledak. Kepanikaan penduduknya, suasana kota yang terbakar dan panas dan lenggang.
Sekitar seratus ribu orang diberitakan terbunuh, puluhan ribu lainnya dinyatakan hilang dan mengalami luka serius. Sebagian besar mahluk hidup ataupun benda mati pada jarak sekitar lima kilometer dari pusat ledakan mengalami luka bakar hingga meleleh. Belakangan para ilmuwan Jepang mengetahui, ledakan tersebut menghasilkan panas mencapai 6000 derajat celcius.
Pasca ledakan bom adalah masalah berat lain yang harus dihadapi mereka yang selamat. Mereka harus menghadapi kematian anak, kehilangan suami dan harta benda yang musnah selamanya. Mereka menyaksikan tetangga mereka terbakar, tubuh dan mukanya meleleh. Mereka juga menyaksikan banyaknya mayat terapung di sungai Koi. Tanpa mengetahui apa yag sebenarnya terjadi, bom apa yang dijatuhkan. Mereka hanya tahu begitu banyak kerusakan dan sedikit orang yang selamat.
Tak hanya itu, warga Hiroshima yang berada diluar radius 5 kilometer, harus menderita sakit berkepanjangan akibat radiasi ledakan bom tersebut. Banyak juga akhirnya meninggal akibat penyakit yang timbul karena radiasi tersebut. Sepuluh hingga lima belas hari setelah ledakan, mereka merasakan rambut mereka rontok. Sepuluh hingga lima belas hari berikutnya, mereka mulai mengalami gangguan pendarahan (blood disordered). Mulai gusi berdarah hingga jumlah sel putih menurun drastis. Kondisi tersebut membuat sang pasien sangat rentan terhadap infeksi kuman atau penyakit lainnya. Pasien dengan jumlah darah putih dibawah seribu bisa dipatikan makin menipis harapannya untuk hidup.
Jika penderita bertahan sebulan setelah ledakan, tubuh mereka harus berjuang bertahan dari rasa sakit berikutnya. Dalam beberapa kejadian, jumlah darah putih penderita tak kembali normal, bahkan meningkat diatas normal. Kali ini mereka harus berhadapan dengan penyakit komplikasi, seperti Keloid tumor. Umur mereka bergantung kepada ketahahan tubuh dan jumlah radiasi dalam tubuhnya.
Hersey dan Indonesia
Wuih … terus terang, saya “lelah” membayangkan banyak penderitaan yang diceritakan “Hiroshima”, yang ternyata tak cukup dirangkum dengan kata “luluh lantak”, seperti saya dapatkan dibangku sekolah. Tetapi, itu tak membuat saya berhenti membaca. Mungkin karena inilah cerita detil terlengkap yang pernah saya baca mengenai dampak ledakan bom atom pertama didunia. Mungkin karena sudut pandang paparan Hersey yang humanis, lengkap dengan paparan bagaimana budaya dan cara pandang orang Jepang menghadapi bencana tersebut.
Karya Hersey ini sama sekali tidak menggurui saya tentang apa dan bagaimana dampak ledakan bom atom. Saya seperti diajak mengikuti cerita dengan menyaksikan gambar-gambar, adegan-peradegan sejak sebelum ledakan bom, hingga ratusan hari setelahnya. Setelah lembar terakhir, saya merasa lenggang,…. pengarang seolah membiarkan saya berpikir, mempertimbangkan dan memilih.
Saya lantas teringat, bagaimana warga Hiroshima kebingungan dan cuma bisa menebak, bom jenis apa sebenarnya yang meledak. Mereka tidak tahu apa dampak dan resikonya dan bagaimana menghadapinya. Mereka tak tahu itulah bom atom. Konon, bahkan sang pembuat bom atom, Albert Einstein menyesal, setelah mengetahui penderitaan penduduk Hiroshima dari karya Jhon Hersey ini.
Pikiran saya berpindah ke negara sediri, Indonesia. Khususnya dengan menguatnya wacana mengenai energi beberapa tahun terakhir.
Jika dicermati, informasi utama mengenai nuklir yang tersedia, dan bisa diakses hingga lapisan bawah adalah iklan buatan pemerintah, ditayangkan berulang di televisi swasta. Iklan tersebut berisi dialog yang menggambarkan betapa bermanfaatnya energi nuklir. Warga tak perlu khawatir tehadap keamanannya.
Mungkin sah-sah saja upaya promosi gencar tentang manfaat suatu produk. Tetapi menjadi tidak etis dan tidak patut, jika publik tidak mendapatkan ruang dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi berimbang mengenai dampak dan resiko energi nuklir.
Sangat tidak patut membiarkan publik mengira bahwa negara kita sangat membutuhkan energi alternatif bernama nuklir, karena pasokan bahan dasar listrik terbatas. Padahal disaat yang sama batubara, minyak dan gas kita terus dijual ke pihak asing. Lebih dari 70% batubara kita digunakan untuk memasok kebutuhan negara lain.
Sama tidak patutnya membiarkan publik berpikir bahwa reaktor pembangkit nuklir sama dengan reaktor riset biasa milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Reaktor untuk keperluan riset sangat berbeda dengan reaktor pembangit energi. Publik juga tak diberi informasi mencukupi mengenai resiko terburuk jika terjadi kecelakaan pada reaktor nuklir, seperti yang terjadi di Chernobyl, Uni Sovyet – yang dampak radiasinya mencapai 500 kali luasan kota Semarang. Dan korban kasus Chernobyl terus berjatuhan hingga hari ini.
Publik juga dibiarkan membayangkan julukan bangsa modern melalui reaktor nuklir, mengikuti jejak negara-negara maju, Amerika Serikat dan Eropa. Tanpa sedikitpun mengetahui, bahwa negara-negara di Eropa sedang memilih “phase out” atau lepas dari ketergantungan energi nuklir. Saat ini, mereka sedang berlomba menggunakan energi yang lebih terbarukan.
Membaca “Hiroshima”, membuat saya merindukan kehadiran jurnalis seperti John Hersey di Indonesia. Jurnalis yang dengan sabar menggali berita, menuliskan dan menyajikannya kepada publik. Tak hanya mendapat informasi alternatif, akurat, mudah dipahami dan tak menggurui, yang utama - publik mendapatkan bahan penting untuk mengambil keputusan bagi masa depannya. Misalnya, memutuskan bahwa uji coba bom atom selayaknya dihentikan, seperti yang disimpulan banyak orang setelah membaca karya Hersey.
Selasa, 15 Mei 2007
Membaca Hiroshima
Rabu, 09 Mei 2007
Style Guide dari The Economist
"The Economist", majalah seputar isyu terkini, menyisihkan beberapa halaman lamannya (web site) untuk style guide penulisan dalam Bahasa Inggris. Informasi yang singkat, padat, menarik. Bermanfaat bagi mereka yang sering menulis dalam Bahasa Inggris, dapat pula menjadi perbandingan rujukan bagi mereka yang sering menulis dalam Bahasa Indonesia.
Sebenarnya style guide terbitan majalah "The Economist" ini tidak gratis seharga 16,99 Poundsterling. Namun dalam halaman tentang "Style Guide", beberapa hal berikut dapat dilihat secara gratis:
* Introduction
- Metaphors
- Short words
- Unnecessary words
- Active, not passive
- Jargon
- Tone
- Journalese and slang
- Americanisms
- Syntax
* Some dos and don'ts
* Some common solecisms
* Abbreviations
* Accents
* Capitals
- People
- Organisations, acts, etc
- Places
- Political terms
- Historical periods
- Trade names
- Euro-terms
- e-expressions
- Miscellaneous (Upper case)
- Miscellaneous (Lower case)
* Figures
* Hyphens
* Italics
* Plurals
* Punctuation
- Apostrophes
- Brackets
- Colons
- Commas
- Dashes
- Full stops
- Inverted commas
- Question-marks
- Semi-colons
* Singular or plural?
* Spelling
- Common problems
- Miscellaneous
- People
- Places
* Titles
http://www.economist.com/research/styleguide/
Senin, 30 April 2007
Silabus Narasi Angkatan Kedua
Kursus “Narasi” angkatan kedua ini (1 Mei-28 Agustus 2007) dirancang untuk orang yang ingin belajar menulis panjang dengan memikat dan mendalam. Ini dirancang mereka yang berminat menulis esai atau buku nonfiksi.
Kursus diadakan selama 18 sesi dengan frekuensi mingguan, petang hari (pukul 19.00-21.00), kecuali pada sesi Daoed Joesoef. Cara mingguan ini sengaja dibuat agar peserta punya waktu mengendapkan materi belajar, mengerjakan pekerjaan rumah serta membaca. Jumlah peserta maksimal 20 orang agar ada waktu diskusi. Kursus ini ditekankan pada banyak latihan.
Tugas akhirnya berupa penulisan sebuah narasi sekitar 5.000 kata. Ia dilakukan sesudah peserta berlatih melakukan riset, liputan, wawancara, dan menulis. Jumlah kata sekadar pegangan saja. Ia bisa lebih pendek atau panjang lagi. Peserta akan membaca dan membicarakan karya-karya Joseph Mitchell, Truman Capote, John Hersey, dan Ryszard Kapuscinski.
INSTRUKTUR
Andreas Harsono wartawan Jakarta, pernah bekerja di harian The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menang beberapa penghargaan internasional antara lain The Correspondent of the Year dari The American Reporter (1997) serta Nieman Fellowship dari Universitas Harvard (1999-2000). Dia co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Kini ia sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.
Budi Setiyono wartawan Jakarta, pernah bekerja untuk Suara Merdeka (Semarang) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia jadi co-editor buku Revolusi Belum Selesai yang berisi kumpulan pidato politik Presiden Soekarno serta Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Kini ia sedang menyelesaikan buku soal Lembaga Kebudayaan Rakyat.
SYARAT DAN BIAYA
Peserta terbiasa dengan dunia tulis-menulis. Entah menulis di blog, makalah, buku harian atau media. Mereka juga terbiasa melakukan riset dan akrab dengan internet. Latar belakang bisa dari berbagai disiplin ilmu, minat atau profesi. Angkatan pertama terdiri dari aktivis, wartawan, dokter, pengacara, mahasiswa, dosen, manajer NGO dan sebagainya. Peserta juga lancar membaca naskah dalam bahasa Inggris karena banyak materi kursus dari bahasa Inggris. Peserta dikenakan biaya Rp 4 juta.
SILABUS
Sebelum memasuki hari pertama, sebaiknya Anda sudah membaca Resensi buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono (kalau tertarik baca bukunya The Elements of Journalism atau versi Indonesia Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel)
SESI PERTAMA (1 Mei 2007)
Perkenalan, pembicaraan silabus dan diskusi soal jurnalisme dasar, isu tentang “objektivitas” wartawan dengan membahas “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Jakarta a.l. byline, firewall, advertorial. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: Bacalah “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana Kurnia; “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita” oleh Andreas Harsono; edisi jurnal Nieman Reports edisi Spring 2002 Volume 56 No. 1 tentang narrative journalism. Bacaan Nieman ini cukup tebal. Ini penting guna tahu sejarah dan perdebatan soal genre ini di Barat.
SESI KEDUA (8 Mei 2007)
Diskusi soal jurnalisme sastrawi, bagaimana Tom Wolfe memulai gerakan ini di Amerika Serikat pada 1960-an dan bagaimana suratkabar-suratkabar Amerika mengambil elemen-elemen genre ini. Diskusi tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.” [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: Bacalah “Hiroshima” oleh John Hersey dan “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey”oleh Bimo Nugroho. Usahakan baca John Hersey hingga selesai. Bacaan dari Bimo Nugroho membantu memahami “Hiroshima.”
SESI KETIGA (15 Mei 2007)
Diskusi soal struktur dengan contoh “Hiroshima” karya John Hersey. Ini sebuah karya klasik, dimuat majalah The New Yorker pada Agustus 1946, yang pernah dipilih sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad XX. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: Siapkan ide laporan yang akan dijadikan tulisan panjang; bisa dari pengalaman, bahan bacaan, dll. Ide ini bisa atau malah sebaiknya dipakai untuk setiap tugas dalam tiap sesi. Hasil akhirnya sebuah naskah panjang pada akhir kursus. Setiap peserta sangat diharapkan mengerjakan ide laporan panjang ini.
SESI KEEMPAT (22 Mei 2007)
Diskusi menggali, mengembangkan, dan menajamkan ide laporan, serta menemukan fokus dan angle. Setiap peserta akan presentasi ide masing-masing, dan dibahas bersama-sama; baik dari kebaruan ide maupun cara kerjanya. Setiap sesi bisa empat hingga lima orang. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: Matangkan ide laporan Anda. Perbanyak riset dan wawancara background untuk memperkuat ide liputan. Tuangkan ide Anda dalam sebuah outline yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya.
SESI KELIMA (29 Mei 2007)
Diskusi lanjutan. [Budi Setiyono]
SESI KEENAM (5 Juni 2007)
Diskusi lanjutan. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: Bacalah “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono, ”Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah, ”Panglima, Cuak, dan RBT” dan ”Sebuah Kegilangan di Simpang Kraft” karya Chik Rini, dan ”Orang-orang Di Tiro” karya Linda Christanty.
Pekerjaan rumah kedua: Perhatikan sesuatu, lakukan wawancara dan buatlah sebuah deskripsi pendek, sekitar 200 kata saja. Kita akan membacakan empat atau lima karya ini pada pertemuan berikutnya. Ini untuk melatih peserta membuat deskripsi.
SESI KETUJUH (12 Juni 2007)
Diskusi soal struktur karangan dengan melihat lima tulisan tentang Aceh dikerjakan empat orang berbeda. Tujuannya, bagaimana sebuah isu sama dikerjakan dengan sudut pandang dan metode beda-beda. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah karya Daoed Joesoef dalam buku Emak dan Aku dan Dia (hanya bab ”Monsieur Courazier dan Aku”). Joesoef seorang cendekiawan didikan Sorbonne, Paris. Dia pernah jadi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Menteri Pendidikan rezim Presiden Soeharto. Orangnya sangat disiplin. Please don’t be late!
SESI TAMBAHAN (Sabtu, 16 Juni 2007 pukul 10:00-12:00)
Diskusi dengan Daoed Joesoef tentang penulisan buku-bukunya di rumahnya, Jl. Bangka Dalam VII No. 15 telepon 7190431). Isterinya, Sri Soelastri Joesoef, akan menemani. Diskusi akan diakhiri dengan makan siang bersama di rumah asri keluarga Joesoef.
Pekerjaan rumah: Bacalah ”The Riverman” Joseph Mitchell lalu buatlah sebuah deskripsi pendek, sekitar 200 kata saja. Kita akan membacakan empat atau lima karya ini pada pertemuan berikutnya. Mitchell salah satu penulis yang terkenal dengan pengamatannya terhadap detail.
SESI KEDELAPAN (19 Juni 2007)
Diskusi soal deskripsi dan dialog dengan melihat ”The Riverman.” [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: Bacalah ”Shah of Shahs”dan ”The Soccer War” karya Ryszard Kapuscinski.
SESI KESEMBILAN (26 Juni 2007)
Diskusi soal deskripsi dan dialog dengan melihat karya-karya Ryszard Kapuscinski. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah ”A Hidden Language-Dutch in Indonesia” karya M.H.J. Maier; ”Ganasnya Bahasa dan Ganasnya Kekuasaan” karya Ariel Heryanto; “Semangkin Dikangeni: Pocapan Umar Kayak dalam KR” karya Jennifer Lindsay; serta ”Bahasa Jurnalistik Indonesia” karya Goenawan Mohamad.
SESI KESEPULUH (3 Juli 2007)
Diskusi soal bahasa dan bangsa serta bagaimana melihat isu itu dalam kepenulisan di Jakarta. Bahasa adalah alat utama seorang penulis. Namun bahasa juga alat utama negara Indonesia untuk menguasai cara kita berpikir. Dibahas juga soal teknik penulisan [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: Bacalah ”The Silent Season of A Hero” karya Gay Talese dan “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams. Lalu buatlah sebuah profil pendek, satu halaman, dari seorang tokoh dalam tulisan panjang yang sedang Anda rencanakan.
SESI KESEBELAS (10 Juli 2007)
”The Silent Season of A Hero” mengubah cara wartawan menulis sosok orang di Amerika Serikat. Cindy Adams seorang wartawati cantik yang beruntung bisa menulis autobiografi Bung Karno. Diskusi soal penulisan profil. [Budi Setiyono].
Pekerjaan rumah: bacalah oleh ”Ten Tips For Better Interview” (www.ijnet.org) dan ”The Art of the Interview” oleh Eric Nalder
SESI KEDUABELAS (17 Juli 2007)
Teknik wawancara dengan melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. Peserta melakukan praktik wawancara di depan kelas dan sesudahnya menonton ”Black Hawk Down” karya Mark Bowden untuk lihat deskripsi yang berubah jadi film. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: Bacalah “Ini sebuah Kehormatan” karya Jimmy Breslin. Buatlah sebuah deskripsi pendek, satu halaman, yang menampilkan penokohan dan sudut pandang orang pertama ("saya" atau “aku” atau “kita”). Kalau masih ada waktu, bacalah “In Cold Blood” karya Truman Capote. Ini karya klasik dari The New Yorker.
SESI KETIGABELAS (24 Juli 2007)
Diskusi soal penokohan dan sudut pandang; bagaimana mengembangkan tokoh serta menampilkan cerita dari suatu sudut pandang. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: Bacalah bagian-bagian dari kumpulan esai dalam buku Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat karya Fadjroel Rachman.
SESI TAMBAHAN (31 Juli 2007)
Diskusi dengan Fadjroel Rachman, seorang aktivis, penyair serta penulis esai. Fadjroel seorang pembicara yang sangat menarik. Dia menguasai banyak pepatah dan bacaannya luas. Kesukaannya, politik, kebangsaan, sekulerisme dan pernah jadi murid Soedjatmoko dari Partai Sosialis Indonesia.
Pekerjaan rumah: Persiapkan liputan panjang Anda.
SESI KEEMPATBELAS (7 Agustus 2007)
Diskusi perkembangan liputan panjang. [Andreas Harsono]
SESI KELIMABELAS (14 Agustus 2007)
Diskusi perkembangan liputan panjang. [Budi Setiyono]
SESI KEENAMBELAS (21 Agustus 2007)
Warna sari, tanya jawab. Penutupan. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]
Sabtu, 28 April 2007
Bagaimana menulis resensi buku?
Dear Wenny,
Secara umum, menulis resensi punya dua bagian. Pertama, ia menceritakan isi dari buku yang dibahasnya itu. Ini penting karena tidak semua orang membaca buku yang dibahas. Bahkan cukup banyak orang mengandalkan resensi karena memang tak mau atau tak bisa membaca buku aslinya.
Saya pernah tinggal di Boston dan New York. Kalau Anda tinggal disana dan berlangganan harian setempat, misalnya Boston Globe dan The New York Times, setiap akhir pekan kedua harian itu menerbitkan satu seksi khusus tentang resensi buku. Tebalnya bisa 12-24 halaman (termasuk iklan dari industri buku). Tentu ini juga memiliki wawancara dengan para penulis.
Bahkan kalau masih belum puas, ada juga The New York Review of Books, sebuah majalah dwi mingguan yang isinya khusus resensi buku dan analisis. Goenawan Mohamad dari Jakarta berlangganan tabloid ini. Goenawan setiap minggu harus menulis kolom di majalah Tempo. Ia butuh banyak buku. Namun dia belum tentu bisa mendapatkan buku-buku mutakhir yang ingin dibacanya (harus beli di luar negeri) atau waktunya tak cukup, maka dia membaca The New York Review of Books. Majalah Esquire menyebutnya, ".. the premier literary-intellectual magazine in the English language." Pada 2003, sirkulasinya mencapai 125,000.
Kedua, resensi ini juga sebaiknya dilengkapi perbandingan dengan karya lain. Artinya, seseorang yang menulis resensi buku baru soal nasionalisme misalnya, seyogyanya dia juga tahu karya-karya klasik Benedict Anderson, Ernest Gellner, Ernest Renan, Michael Billig dan sebagainya.
Saya seringkali menemukan resensi di Jakarta ini yang ditulis tanpa tahu referensi klasik. Minggu lalu saya menggoda seorang kenalan yang menulis resensi di Koran Tempo tentang buku Mia Bustam, isteri pertama S. Soedjojono, namun tak tahu siapa Claire Holt, seorang kritikus seni rupa Indonesia modern.
Kalau bisa soal nasionalisme, topik yang sedang saya geluti, aduh, salah kaprah disini cukup parah. Kebanyakan orang disini tak membaca Benedict Anderson, yang banyak menulis soal Indonesia, maupun karya-karya orang Indonesia sendiri soal nasionalisme, dari Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir hingga Goenawan Mohamad.
Kelebihan The New York Review of Books terletak pada analisis ini. Banyak orang yang mengkritik buku menulis dalam tabloid ini. Saya kenal beberapa kontributor majalah ini, antara lain, Margaret Scott serta Clifford Geertz. Scott mantan redaktur halaman kebudayaan majalah Far Eastern Economic Review di Hongkong. Geertz seorang anthropolog yang menulis karya klasik The Religion of Java serta Agricultural Involution: the process of ecological change in Indonesia, Negara: The Theater State in Nineteenth Century Bali dan Works and Lives: The Anthropologist As Author. Para penulis resensi ini tak jarang menelusuri tempat-tempat dimana sebuah buku ditulis atau bahan reportase, guna menulis kritik terhadap buku bersangkutan.
Saya kira dua unsur itulah yang diperlukan dalam menulis sebuah resensi. Saya pernah bikin resensi panjang tentang beberapa buku soal majalah The New Yorker. Anda bisa baca dalam buku hitam terbitan Pantau itu. Terima kasih.
Andreas Harsono
Selasa, 24 April 2007
tepat padat
Seorang rekan kantor yang sudah malang-melintang di dunia iklan dan jurnalisme Indonesia mengirim beberapa pesan singkat lewat telepon seluler. Pada suatu malam kelam. Di tengah-tengah tenggat yang merayap.
- 1) Mulailah menulis dengan sebuah obituari
Menantang Anda untuk menulis sepadat mungkin. Berperanglah dengan kata-kata klise. Sarikan hal penting. Nama, umur, identifikasi, waktu dan tempat kematikan, kenapa mati, prosesi penguburan, keluarga yang ditinggalkan; - 2) Kecelakaan dan musibah
Membantu prinsip get it right, write it tight; - 3. Hukum dan kriminal
Anda ditantang dengan akurasi, balancing dan jalannya sistem sosial.
I think it's worth trying. At least for a beginner like me..
Senin, 12 Maret 2007
Blog Narasi
Mulai saat ini segala macam tulisan teman - teman yang mengikuti kursus narasi ataupun tidak dapat kiranya bisa mengisi tulisan, foto esai, tugas akhir, tugas kursus atau liputan ke blog narasi ini. seluruh peserta ataupun anggota pantau dapat mengakses blog ini dan apabila ada yang memang bisa merubah - rubah html di blog ini sangat menarik sekali, tulisan yang masuk ke blog ini bebas aja masuk tanpa sensor ketat dari korporasi......Selamat Menulis
Selasa, 28 November 2006
Kursus Narasi Angkatan I
Yayasan Pantau membuka kursus baru bernama “Narasi.” Ia dirancang untuk orang yang ingin belajar menulis panjang. Namun bukan sekadar panjang. Ia juga memikat sekaligus mendalam. Kursus ini cocok untuk orang yang berminat menulis esai atau buku. Pendekatannya pada materi nonfiksi.
Kursus diadakan selama 16 sesi dengan frekuensi mingguan, petang hari (pukul 19.00-21.00). Mingguan ini dirancang agar peserta punya waktu mengendapkan materi belajar, mengerjakan pekerjaan rumah serta membaca. Jumlah peserta maksimal 20 orang agar ada waktu diskusi. Kursus ini ditekankan pada banyak latihan.
Tugas akhirnya berupa penulisan sebuah narasi 5.000-7.500 kata. Ia dilakukan sesudah peserta berlatih melakukan riset, liputan, wawancara dan menulis. Jumlah kata sekadar pegangan saja. Ia bisa lebih panjang lagi.
Peserta akan membaca dan membicarakan karya-karya Joseph Mitchell, Truman Capote, John Hersey, Ryszard Kapuscinski serta menonton film “Black Hawk Down” karya Mark Bowden.
INSTRUKTUR
Andreas Harsono wartawan Jakarta yang pernah bekerja di harian The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menang beberapa penghargaan internasional antara lain The Correspondent of the Year dari The American Reporter (1997) serta Nieman Fellowship dari Universitas Harvard (1999-2000). Dia co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Kini ia sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism sebagai sebuah political travelogue. Weblog www.andreasharsono.blogspot.com
Budi Setiyono wartawan Jakarta, pernah bekerja untuk Suara Merdeka (Semarang) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia jadi co-editor buku Revolusi Belum Selesai, yang berisi kumpulan pidato politik Presiden Soekarno, Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat dan sejumlah buku lainnya.
SYARAT DAN BIAYA
Peserta terbiasa dengan dunia tulis-menulis. Entah menulis di blog, makalah, buku harian atau media. Mereka juga terbiasa melakukan riset dan akrab dengan internet. Latar belakang bisa dari berbagai disiplin ilmu, minat atau profesi. Bisa aktivis, wartawan, dokter, arsitek, pengacara, mahasiswa, dan sebagainya. Peserta juga wajib lancar membaca naskah dalam bahasa Inggris karena banyak materi kursus dari bahasa Inggris.
Peserta dikenakan biaya Rp 4 juta. Bila ada peserta dari luar Jakarta, Pantau bisa membantu mencarikan pemondokan atau magang.
SILABUS
Sebelum memasuki hari pertama, sebaiknya Anda sudah membaca Resensi buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono (kalau tertarik baca bukunya The Elements of Journalism atau versi Indonesia Sembilan Elemen Jurnalisme)
HARI PERTAMA (28 November 2006)
Perkenalan, pembicaraan silabus dan diskusi soal jurnalisme dasar, isu tentang “objektivitas” wartawan dengan membahas “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Jakarta a.l. byline, firewall, advertorial. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: bacalah “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana Kurnia; “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita” oleh Andreas Harsono; edisi jurnal Nieman Reports tentang narrative journalism.
HARI KEDUA (5 Desember 2006)
Diskusi soal jurnalisme sastrawi, bagaimana Tom Wolfe memulai gerakan ini di Amerika Serikat pada 1960-an dan bagaimana suratkabar-suratkabar Amerika mengambil elemen-elemen genre ini. Diskusi tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.” [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah “Hiroshima” oleh John Hersey dan “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey”oleh Bimo Nugroho.
HARI KETIGA (12 Desember 2006)
Diskusi soal struktur dengan contoh “Hiroshima” karya John Hersey. Ini sebuah karya klasik, dimuat majalah The New Yorker pada Agustus 1946, yang pernah dipilih sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad XX. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: bacalah “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah.
HARI KEEMPAT (19 Desember 2006)
Diskusi soal deskripsi dan dialog dengan melihat “Kejarlah Daku Kau Sekolahkan”. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: siapkanlah ide untuk liputan panjang, yang bisa dikerjakan selama liburan panjang (Natal dan tahun baru). Perbanyak riset dan wawancara background untuk memperkuat ide liputan. Tuangkan ide Anda dalam sebuah outline yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Sebagai catatan, ide liputan ini bisa dipakai untuk setiap tugas dalam tiap sesi.
HARI KELIMA (9 Januari 2007)
Diskusi soal persiapan liputan panjang. Ide cerita setiap peserta akan dibahas bersama-sama. Baik dari kebaruan ide maupun cara kerjanya? Setiap peserta akan presentasi ide buat tugas akhirnya. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono
HARI KEENAM (16 Januari 2007)
Diskusi soal struktur karangan dengan melihat “Republik Indonesia Kilometer Nol” serta makna bahasa Melayu dalam bangunan sosial Indonesia. Soal feature, penciptaan adegan, penggunaan dialog juga akan dibahas. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono dan buatlah sebuah narasi pendek, satu halaman, dengan gaya orang pertama ("saya" atau “aku” atau “kita”) untuk menggambarkan sebuah ide dengan adegan. Referensi buku biasanya membantu argumentasi sebuah ide.
HARI KETUJUH (23 Januari 2007)
Diskusi soal bagaimana mengawinkan analisis dan cerita perjalanan. Pembahasan tugas juga dilakukan. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah “The Soccer War” karya Ryszard Kapuscinski dan “Blood and Belonging” karya Michael Iguaties
HARI KEDELAPAN (30 Januari 2007)
Diskusi soal bagaimana mengawinkan analisis dan cerita. [Andreas Harsono]
Pekerjaan rumah: bacalah “Black Hawk Down” karya Mark Bowden.
HARI KESEMBILAN (6 Februari 2007)
Nonton dan diskusi film Black Hawk Down [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: “Ngak Ngik Ngok” karya Budi Setiyono dan buku ”Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams.
HARI KESEPULUH (13 Februari 2007)
Diskusi soal bagaimana membuat cerita sejarah, biografi, dengan mengawinkan data sejarah dan cerita [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: “Frank Sinatra Kena Salesma” karya Gay Talese, dan ”Ini Sebuah Kehormatan” karya Jimmy Breslin, “Ali Kini” karya Cal Fussman.
HARI KESEBELAS (20 Februari 2007)
Diskusi soal penokohan dan sudut pandang; bagaimana mengembangkan tokoh serta menampilkan cerita dari suatu sudut pandang. [Budi Setiyono]
HARI KEDUABELAS (27 Februari 2007)
Teknik wawancara dengan melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. [Budi Setiyono]
Pekerjaan rumah: “Humor Mahasiswa” oleh James Danandjaja; “Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto” (anonim - penerbitan bawah tanah), dan “Humor Jurnalistik” oleh Mahbub Djunaidi. Bikinlah satu humor yang nonfiksi.
HARI KETIGABELAS (6 Maret 2007)
Diskusi soal memasukkan humor dalam karangan. [Budi Setiyono]**
Pekerjaan rumah: bacalah “Semangkin Dikangeni: Pocapan Umar Kayak dalam KR” oleh Jennifer Lindsay; Benedict Anderson dalam kata pengantar buku “Indonesia dalam Api dan Bara.”
HARI KEEMPATBELAS (13 Maret 2007)
Diskusi soal bahasa dan bangsa serta bagaimana melihat isu itu dalam kepenulisan di Jakarta. [Budi Setiyono]**
Pekerjaan rumah: Persiapkan liputan panjang Anda.
HARI KELIMABELAS (20 Maret 2007)
Diskusi soal perkembangan liputan panjang yang sedang dikerjakan. [Budi Setiyono]**
HARI KEENAMBELAS (27 Maret 2007)
Warna sari, tanya jawab. Penutupan. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]
* Catatan: Akan diadakan satu sesi di luar kelas. Waktu dan tempat didiskusikan bersama. Setiap saat peserta juga mendiskusikan liputan yang sedang dikerjakan melalui mailing-list.
** Pembicara tamu: Raymond Bonner dan Jane Perlez (dalam konfirmasi). Kemungkinan pembicara tamu lain sangat dimungkinkan.