Jumat, 01 Februari 2008

Jurnalisme Narasi tapi Sastrawi
Oleh Siti Nurrofiqoh

Selasa malam, 27 November 2007, saat jarum mulai menuju angka tujuh. Seperti biasa para peserta memasuki ruang kelas untuk mengikuti pertemuan keempat kursus Narasi yang diadakan oleh Pantau di Jakarta. Budi Setiyono yang akrab disapa Buset, memulai pertemuan dengan memperkenalkan diri yang dilanjutkan oleh seluruh peserta atas permintaan Buset.

“Supaya nanti memudahkan proses mengoreksi tugas teman-teman,” katanya.

Buset membuka diskusi dengan pembahasan tulisannya yang berjudul Ngak Ngik Ngok. Menurut Buset, sebenarnya tulisan itu tidak termasuk karya yang luar biasa, bahkan dibilang jelek dan memalukan. Selain juga konyol karena terdapat kesalahan data soal setahun berdirinya Lekra dan Manifes Kebudayaan. Tulisan tersebut merupakan hasil eksperimennya ketika pertama kali menulis dengan gaya narasi.

“Selain tulisan saya, mana lagi yang menurut anda menarik di sini?” tanyanya sambil memperlihatkan buku Jurnalisme sastrawi yang diterbitkan oleh Pantau.

Secara bersamaan, Laksita Wijayanti dan Aurelius Noorman Ilyas menyebut, “Kegilaan Simpang Kraft.”

“Simpang kraft. Karya ini memang menarik. Saya pikir Chik Rini mampu mengadopsi gaya Hersey dalam Hiroshima. Baik penulisan, deskripsi, struktur, dan sebagainya. Saya pikir dia juga beruntung karena bisa melihat rekaman saat penembakan. Itu bisa digunakan untuk mendeskripsikannya. Kalau hanya melalui reportase, mungkin datanya sangat minim untuk membangun suasana atau adegan. Dia juga datang ke lokasi tempat peristiwa itu terjadi,” Buset menjelaskan.

Buset memaparkan bahwa struktur bisa dibolak-balik. Untuk ini, tak ada salahnya jika melihat-lihat dari film. Adakalanya struktur yang kurang bisa ditangkap secara utuh melalui sebuah novel atau buku, tapi di film terlihat lebih jelas. Ada adegan, jeda, flash back, namun selalu terkait.

“Jadi jangan saklek. Kelebihan narasi ini karena kita menulis dengan gaya bertutur,” ujar Buset.

Buset mengisahkan proses wawancaranya dengan keluarga Koeswojo. Mula-mula ia hanya melihat dari luar tembok, lalu ngobrol dengan penjaga warung di dekat rumahnya. Tujuannya untuk mencari informasi dan akses masuk ke rumah keluarga tersebut. Selain itu informasi juga digali melalui teman-teman Koes Plus yang ada di Malang dan para tetangga. Memang banyak informasi yang bisa didapat dari internet atau tabloid, tapi kebanyakan tak lengkap, bahkan kontradiktif karena media umumnya mewawancara satu sumber saja.

Dalam proses wawancara, reportase, dan observasi, detil tentang tempat dan suasananya bisa ditangkap dan direkam. Ruangannya ada di mana? Suasananya seperti apa? Ekspresi Si Sumber bagaimana? Namun bukan berarti semua ditulis begitu saja, tetap dipilah-pilah.

“Bagaimana caranya? Apakah kita masuk ke ruangan ini, lalu semua hal yang ada di dalamnya akan ditulis?” tanya Buset.

“Cukup yang terkait dengan tema,” jawab Diana.

“Bagaimana menentukan ini terkait dengan tema atau enggak?” Buset menyambung pertanyaan.

“Yang berpengaruh ke cerita,” jawab Diana lagi.

Buset memaparkan bahwa untuk membuat tulisan perlu dibuat rancangannya terlebih dahulu. Namanya outline. Di dalamnya, penulis sudah harus berpikir bagian mana yang akan ditonjolkan, dan itulah yang digali detilnya. Kalau tak dipilah akan sangat merepotkan, meski makin banyak detil bisa membuat tulisan jadi bagus, dan makin banyak bahan menulis jadi lebih enak.

“Kalau sudah jadi tulisan tulisan semacam ini sebenarnya sudah pasti ada pemilahan. Unsur waktu juga jadi hilang dalam hal ini, sama seperti kalau kita baca tulisan Alfian, itu juga nggak kelihatan unsur waktunya karena dipilahnya berdasarkan tema. Untuk menggambarkan keutuhan satu tokoh, bukan pekerjaan yang mudah. Apa lagi kalau lebih. Makin banyak tokoh utama, jelas makin sulit. Dalam menulis Koes Plus bersaudara, sisi keuntungannya adalah mereka tinggal satu komplek,” tambahnya.

Diskusi lalu berlajut ke soal observasi. Dalam jurnalisme, observasi menjadi bagian penting karena terkait dengan si sumber itu sendiri. Penulis harus tahu latar belakang, profesi, dan hal-hal lain yang terkait tema. Apa yang dikatakan narasumber, perlu diperiksa kebenarannya. Observasi bisa digunakan untuk mengetahui gambaran tema yang akan ditulis. Observasi kadang juga menjadi semacam narasumber pembanding. Jika ternyata berbeda, maka akan terlihat bagaimana karakter si sumber.

Mendengar proses penulisan yang begitu panjang, Diana dan Sita melontarkan pertanyaan tentang cara memelihara mood menulis.

Buset menjelaskan bahwa hal pertama yang perlu disiapkan adalah riset tema dan observasi. Lalu dilajutkan dengan membuat outline, mencari bahan-bahan terkait baik melalui buku, internet atau lapangan. Tidak perlu menunggu semua bahan terkumpul karena dalam proses menulis nanti akan ketahuan kekurangannya. Tidak perlu berpikir harus dengan bahasa dan kosa kata seperti apa, yang penting semua ditulis sampai akhir. Membongkar kembali atau rewriting, sudah tentu dilakukan untuk memperbaiki tulisan dan pengecekan data-data, apa lagi menyangkut kutipan yang sensitif.

“Bagian pembuka juga penting,” kata Buset beralih ke bahasan lainnya.

“Orang selalu akan bilang susah memulai. Seperti membuat film, kita akan memperkenalkan para tokoh, tempat atau suasananya karena akan menjadi setting utama dalam cerita. Misalnya tulisan Linda Christanty itu menarik. Dia mulai dengan pembunhan itu. Ketegangan diletakkan di awal. Paling mudah memang untuk membuat cerita kronologis dengan pakai sudut pandang orang pertama. Tapi jarang yang murni. Umumnya variasi antara pakai saya dan dia,” lanjutnya.

“Mas gimana maksudnya sudut pandang itu?” tanya Mutiara.

Buset menjawab dengan menulis kata-kata pada kertas plano. Ia menuliskan: sudut pandang orang pertama (saya), orang kedua (kamu) dan orang ketiga (dia). Lalu ia menjelaskan bahwa dalam menggunakan sudut pandang orang pertama, maka penulis sendiri akan menjadi pencerita atau narator. Ini bisa disesuaikan dengan peristiwanya. Apakah mau menggunakan sudut pandang pelaku? Korban? Orang dewasa atau anak kecil? Tentu semua mengacu pada aturan sumber.

“Mas, saya kan tahu kalau jurnalisme sastrawi ini semua fakta. Tapi kalau menggunakan sudut pandang saya, maka dalam jurnalisme artinya opini. Saya bisa kasih gambaran tentang proses perjalanan saya dari kantor ke sini.Tapi bisa jadi nggak realistis bagi orang lain karena memang nggak ada verifikasi. Meskipun itu fakta. Kalau saya lihat tulisan di jurnalisme sastrawi, ini jadi seperti bukan jurnalisme narasi tapi sastrawi. Tapi melihat tulisan-tulisannya, saya lebih melihat itu sebagai tulisan sastra begitu,” Mutiara menguraikan pertanyaannya.

“Siapa mau nanggepin?” tanya Buset.

“Saya juga sama. Sampai sekarang saya belum mengakui adanya jurnalisme sastrawi. Kenapa bukan jurnalisme yang ada kaitannya dengan narasi saja. Saya baca di buku-buku jurnalistik, soal interpretasi penulis pasti ada. Seperti kemarin mas Andreas bilang bahwa subyektif itu sangat sulit untuk dihindari,” Papar Eko.

Perdebatan seperti ini, soal jurnalisme sastrawi bukan hanya terjadi di kelas ini. Bahkan, saat buku Antologi Tulisan Jurnalisme Sastrawi diterbitkan juga sudah mengundang perdebatan serupa. “Sampai ada yang bilang, kenapa tak jurnalisme Pantau, kan Pantau yang menggunakan ini,” kenang Buset.

“Tapi prinsipnya, hanya mau menggabungkan antara jurnalisme dan sastra. Sastra itu hanya mau kita ambil alat-alatnya saja. Tapi untuk dasarnya tetap jurnalisme. Jurnalisme itu kan laki-laki, cenderung keras apa adanya. Sastra ini kan perempuan, ada nada dan kelembutan. Jadi ada iramanya,” tambahnya.

Penjelasan Buset langsung ditanggapi oleh Mutiara, “Tapi mas, kalau saya nggak salah, minggu lalu mas Andreas bicara tentang terminologi sastrawi. Dia bilang sama-sekali tidak ada kaitannya dengan sastra. Jurnalisme sastrawi adalah jurnalisme narasi.”

“Tulisan ini menjadi indah, gitu lho…karena ada opini si penulis. Dia tulis beberapa kalimat dan itu kalimat sastra, gitu lho… Saya tahu kalimat itu tidak dipakai di jurnalisme koran-koran, gitu lho... Kalimat yang halus dan membuat pembaca nggak bosan. Saya jadi agak bingung. Kalau itu diterjemahin dan kalau ini memang satu konsep jurnalisme, maka bahasa aslinya apa, gitu lho... Dan kenapa jadi jurnalisme sastrawi? Kenapa kemarin ada statement bahwa ini tak ada hubungannya dengan sastra. Ini jadi agak membingungkan aja,” tandasnya.

“Sekilas orang akan menganggap, apa sih jurnalisme sastrawi? Seolah hubungan perkawinan begitu saja, sehingga ada unsur sastranya di situ. Ada unsur fiksinya di situ. Pernyataan, ini bukan sastra. Ini fakta. Ini jurnalisme. Bahwa kemudian ada sastranya, kita hanya mengambil elemen-elemen sastranya. Ada adegan demi adegan dan dialog. Tapi prinsipnya jurnalisme. Bukan sastra bukan fiksi. Semua melalui proses verifikasi, semua fakta,” Buset menanggapi.

“Subyektifitas pasti ada. Kebenaran itu sendiri memungkinkan wartawan untuk subyektif. Obyektifitas itu sebenarnya subyektif. Nggak ada kebenaran yang obyektif. Kemungkinan semua orang subyektif. Ketika kompas memilih meliput berita ini misalnya, itu sudah subyektif. Ketika si wartawan memilih berita itu, juga sudah subyektif. Subyektifitas sudah pasti muncul dalam diri kita tanpa disadari. Kesadaran agama kita, pengetahuan, etnis, disadari atau tidak akan mempengaruhi yang kita tulis,” tambahnya kemudian.

Mutiara mengajukan soal bagaimana kalau menulis dinamika kelas, ruangan, orang-orang, dan kecenderungannya, tanpa perlu wawancara. Ia akan menulis menurut apa yang ia lihat. Apakah hal semacam itu termasuk jurnalisme sastrawi?

Menurut Buset, kalau mau menulis untuk mendeskripsikan sesuatu yang tak ada kaitannya dengan orang, pasti masih bisa diverifikasi. Orang lain masih bisa membuktikan sendiri kebenaran tersebut. Tapi kalau menulis sesuatu yang berkaitan dengan orang, hal itu jelas tidak bisa. Untuk menentukan seseorang seperti apa, tidak cukup hanya dengan melihat. Misalnya kita datang ke rumah seorang pejabat yang di lemarinya banyak berjejer buku, bukan berarti kita bisa menyimpulkan bahwa orang tersebut suka membaca.

“Hati-hati lho,” pesan Buset.

“Dalam jurnalisme, apa yang dilakukan Mutiara didalam menggambarkan apa yang dilihat, lebih tepatnya disebut deskripsi. Bukan reportase,” komentar Eko Rusdianto.
Namun, Eko juga mengaku bingung tentang detil dan pendeskripsian tulisan Agus Sopian soal bom Bali. Dalam tulisan tersebut penggambarannya begitu jelas seolah-olah penulisnya ada di situ. Bahkan, Eko menamainya penulis yang misterius. Lalu Eko membaca deretan kalimat, yang sarat detil dengan deskripsi yang lengkap, “Sebuah Daihatsu merah hati meluncur pelan, menjinakkan keramaian lalu lintas kawasan Senen, Jakarta. Abas menginjak pedal rem. Tiga orang turun dari kendaraan…”

Eko kemudian bertanya cara mendapat fakta tersebut. Menurut Buset kedetilan seperti itu biasanya didapat dari BAP (Berita Acara Pemeriksaan) di kepolisian ataupun pengadilan. Namun, tetap mengacu pada urutan sumber.

Dalam tulisan narasi, dialog penting untuk menggambarkan karakter si tokoh. Bahkan ciri khas daerah bisa ketahuan lewat logat dan dialognya. Misalnya, jika ada yang menulis kutipan langsung Soeharto dengan serba pakai ken, maka orang akan tahu kalau itu Soeharto.

Soal kutipan langsung dialog si tokoh, bagi Mutiara menjadi rancu. Kalau kedapatan sumber yang kurang jelas dan langsung dikutip tanpa direduksi oleh penulis, bisa jadi pembaca tidak mengerti. Tapi kalau dialog disusun oleh penulis, maka hal itu akan menghilangkan karakter si tokoh. Untuk mengatasinya tetap pada pemilahan. Kalau hal itu terasa mengganggu, bisa disusun ulang, tentu bukan menjadi kutipan langsung atau tak perlu dimasukkan dalam dialog. Tetapi menjadi deskripsi. Dialog bukan jalan satu-satunya untuk menggambarkan si tokoh.

Berapa persen komposisi dialog dan non dialog juga menjadi pertanyaan di kelas ini. “Hal itu tergantung pada selera penulis, masing-masing punya style yang berbeda. Tulisan Tom Wolf isinya dialog semua. Tulisan Truman Capote sarat dengan deskripsi. Bisa pakai yang mana saja,” ujar Buset seraya menyudahi pertemuan malam itu pada jam sembilan malam.

******
Edited by Eva Danayanti

Hersey Menuju Hiroshima
Oleh Siti Nurrofiqoh

“Kita akan mulai dengan Harold Ross, pendiri The New Yorker. Ketika hendak mendirikan majalah ini, Ia berpikir akan mendirikan majalah yang disebutnya Shopisticated. Targetnya adalah orang sekolahan yang suka seni, suka sastra, butuh informasi, dan analisis mendalam. Ia menarik penulis terbaik Amerika awal abad keduapuluh, macam E.B. White, A.J. Liebling, James Thursber, Rebecca West, dan lain-lain. Pada tahun 1946 sirkulasi majalahnya meningkat menjadi 300.000 pelanggan yang kebanyakan dari luar New York,” deretan kalimat panjang ini dipaparkan Andreas Harsono, ketika membuka sesi ketiga kursus Narasi III yang diadakan oleh Pantau.

Seperti biasa, pertemuan tanggal 20 November 2007 ini diadakan di Gedung Strategy, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, dan dihadiri oleh 16 peserta kursus. Pada sesi kali ini, peserta diajak menyimak karya John Hersey, seorang penulis yang lahir pada tahun 1904 di Tientsin, Cina, dari pasangan misionaris Roscoe dan Grace Baird Hersey. Pada tahun 1932, Ia sekolah di University Yale, lalu menjadi sekretairs novelis Sinclair Lewis yang meraih nobel tahun 1930 di Cambridge. Pada tahun 1937, Ia mulai bekerja untuk majalah Time dan Life.

“Ada yang pernah ke Cambridge?” tanya Andreas.

“Cambridge kota yang menarik. Di kota tersebut ada lebih dari 30 pemenang hadiah nobel,” komentar Andreas.

Dalam menulis, selalu ada yang disebut dengan story idea atau ide liputan yang biasanya sudah harus ada di kepala, sebelum wartawan atau penulis pergi ke lapangan. “Jika hendak berbelanja ke pasar, pastikan dulu dari rumah apa yang akan dimasak. Tidak mungkin pergi ke pasar tanpa tahu apa yang akan dibeli. Meski begitu, bukan berarti kita tidak boleh mengubah pilihan apabila menemukan sesuatu yang menarik,” kata Andreas mengistilahkannya.

Pada tahun 1945, Hersey hendak pergi ke Cina dan Jepang untuk meliput situasi perang dunia II. William Shawn, redaktur pelaksana The New Yorker, menawarkan Hersey sepuluh ide liputan termasuk soal pengalaman warga yang kotanya dibom dengan dahsyat. Shawn mulanya menginginkan Cologne karya Joe Sayre. Namun, perang Eropa selesai duluan, maka Ia memutuskan mengambil Hiroshima.

Tahun 1946, saat Hersey naik kapal menuju Cina dan Jepang, ia membaca novel The Brige of San Luis Ray karya Thornton Wilder tentang bencana alam di Peru pada abad XVIII. Karya yang berasal dari pengalaman beberapa korban ini menggunakan narasumber atau sudut pandang dari orang biasa. Hal tersebut ternyata membuat reportase jadi lebih lengkap.

Tanggal 25 Mei 1946, Hersey tiba di Hiroshima. Itu artinya sudah sepuluh bulan berlalu sejak kota Hiroshima dibom pada bulan Agustus 1945. Untuk ukuran kerja wartawan, hal ini sudah sangat ketinggalan. Selama 3 minggu Ia mewawancarai sekitar 40 orang dari berbagai kalangan. Ada akademisi, saksi, termasuk enam orang (satu orang Jerman dan lima orang Jepang) yang menjadi tokoh dalam tulisannya. Hersey memilih keenam orang tersebut karena kendala bahasa yang Ia alami. Ia tak bisa bahasa Jepang, sementara narasumber tak bisa berbahasa Mandarin, sehingga orang yang dipilihnya adalah mereka yang bisa bahasa Inggris meski patah-patah dan juga artikulatif.

“This is important,” kata Andreas menekankan pentingnya narasumber yang artikulatif.

“Artikulatif adalah orang-orang yang selalu bisa menuangkan ide-idenya dengan jelas. Punya ingatan cukup kuat. Minimal orang tersebut bisa skeptis terhadap ingatannya dan deskripsinya lengkap. Seperti sawah ada di mana? Duduknya di kursi apa? Baju yang dikenakan hari itu apa? Semua bisa diingat dengan jelas. Clarity. Jika penulis bisa menemukan sumber yang artikulatif, artinya sebagian dari wawancara sudah selesai,” jelas Andreas.

Pada tanggal 12 Juni tahun 1946, Hersey terbang kembali ke Cambridge. Selama sebulan Ia menulis laporan dengan gaya yang kalem, kering, tanpa emosi. Bulan Agustus 1946, empat seri laporan sebanyak 150 halaman, 30.000 kata, dengan judul Some Event at Hiroshima diserahkan Hersey kepada William Shawn. Namun, Shawn merasa introduksi pada bagian dua, tiga, dan empat mengganggu aliran cerita.

Sepuluh hari Shawn dan Ross mengurung diri di ruang editor dengan pintu terkunci. Hasilnya, Ross memberi 47 komentar bagian pertama, masih ditambah 27 komentar setelah direvisi lagi oleh Hersey, dan 6 komentar lagi setelah revisi kedua dilakukan Hersey. Dalam revisi tersebut, Ross dan Shawn bukan hanya mengajukan pertanyaan tetapi meneliti titik kecil tiap fakta. Clarity, konsistensi, diksi, dan tata bahasa atau logika. Perempuan atau wanita. Tioghoa atau Cina, Dayak atau Daya, Aceh atau Acheh, semua itu adalah diksi yang mempunyai makna politik. Itulah kenapa diksi juga penting.

Dalam proses verifikasi laporan Hersey, soal pintu pun menjadi hal yang mengundang perdebatan di meja redaksi. Pintu rumah orang Jepang yang tidak menghadap ke dinding menjadi aneh menurut Ross dan Shawn. Tapi kehebatan Hersey terbukti, ketika semua fakta tersebut di periksa. Hersey telah menyajikan detil dan akurasi yang “biblical”, sehingga kelak orang Jepang menyatakan tak ada satupun yang salah. Semua benar adanya.

Akhirnya laporan panjang yang oleh Ross judulnya disederhanakan menjadi Hiroshima itu membuat majalah The New Yorker tampil tak seperti biasanya. Tanpa both, tanpa side bar. Ada empat bagian dalam tulisan Hiroshima, yaitu A Noiseless Flash, The Fire, Details Are Being Investigated, dan Panic Grass and Feverfew. Sambutan luar biasa datang dari masyarakat. Seorang John Hersey, mampu mengalahkan ratusan akademisi, ribuan aktivis, dan para politikus hanya dengan satu cerita. Pesan-pesannya dalam karya tersebut masih terasa hingga hari ini.

“Kenapa dalam menulis hitungannya pakai kata mas?” tanya seorang peserta di sela-sela pembahasan soal John Hersey.

Menurut Andreas, kata adalah dunia terkecil dalam sastrawi. Dunia pemikiran. Sedangkan karakter biasanya lebih dibutuhkan oleh disainer. Seorang disainer perlu tahu karakternya, supaya bisa menghitung jumlah halaman yang diperlukan.

Peserta tampak serius mengikuti sesi yang bertajuk “Hiroshima”.

Laksita Wijayanti mengajukan pertanyaan, “Apakah pada tahun itu tidak ada pemberitaan-pemberitaan sebelumnya mengenai bom tersebut, sehingga hanya karya John Hersey yang mendapat respon demikian besar dari masyarakat?”

Indarti Mora memberi tanggapan, “Mungkin sudah banyak yang menulis, tapi mungkin para penulis sebelumnya hanya menulis dari satu sudut pandang saja. Misalnya kalau soal perang, ya hanya sisi perangnya, kalau tsunami ya hanya soal tsunaminya saja, atau kalau soal gempa bumi ya hanya soal gempanya saja. Tidak ada yang menulis sedetil John Hersey yang mengemas fakta dan memaparkannya, tanpa menyangkut masalah politis.”

“Ya. Betul. Dan karena itulah karya ini menjadi bagus,” Andreas menambahkan.

Pertemuan malam itu diakhiri saat jarum jam di ruang kelas menunjuk pukul 20.48 WIB.

******
Edited by Eva Dananyanti

Kapan Jurnalisme Bisa Ditambahi Kata Sifat
Oleh. Siti Nurrofiqoh

“Kapan jurnalisme menjadi sah diberi nama jurnalisme sastrawi atau investigasi? Saya ingat ucapan Ulil Abshar Abdalla yang mengatakan bahwa Islam itu tidak pernah tidak ada kata sifanya. Ada Islam fundamentalis, syirah, liberal, dan sebagainya. Begitu juga dengan agama seperti Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya,” kata Andreas Harsono membuka pertemuan kedua kursus Narasi III pada
Selasa malam, tanggal 13 November 2007. Ada limabelas orang peserta yang menghadiri pertemuan itu di gedung Strategy, Kebayoran Lama.

Belakangan, kata sifat seperti sastrawi, investigasi, damai ataupun islami sudah sering terdengar lekat di belakang nama jurnalisme. Soal agama yang dibahas di atas, hanyalah sebuah contoh yang kebetulan punya kesamaan. Jurnalisme adalah kata benda yang sering dikasih kata sifat.

“Pertanyaannya adalah kapan suatu jurnalisme itu disebut jurnalisme sastrawi atau Islami, Protestan, Kaharingan atau apapun, tapi ia tetap jurnalisme. Kapan genre ini diakui?” tanya Andreas lalu menyambungnya dengan pemaparan panjang.

Di dalam jurnalisme, itu baru diakui apabila ia berhasil membuktikan metodenya. Metode yang tidak melawan metode umum atau yang sudah ada, yang biasa dipakai sehari-hari. Namun apabila jurnalisme, entah itu jurnalisme damai atau Islami atau apapun, kalau melawan metode yang sudah ada, maka itu bukan jurnalisme. Bicara jurnalisme berarti bicara soal fakta dan verifikasi. Tidak bicara soal perspektif maupun propaganda. Tidak dibenarkan liputan menggunakan perspektif Islam atau damai atau apapun. Meski bukan berarti kita melarang orang punya perspektif.

“Untuk membuat liputan yang lebih dari yang biasa digunakan sehari-hari, metode apa yang digunakan? Lalu apa yang membedakan narasi dengan liputan sehari-hari? Apa itu narasi?” Andreas kembali melontarkan pertanyaan.

Menurut peserta, narasi identik dengan tulisan panjang, mengalir, dan sifatnya bercerita (Story telling). Andreas lalu membuat tiga macam gambar pada kertas plano sambil menjelaskan maksud ketiga gambar tersebut.

Gambar pertama diberi nama piramida terbalik. Ia menjelaskan, jika menulis dengan model ini, maka hal-hal penting diletakkan di bagian atas, sementara ha-hal yang dianggap kurang penting ada di bagian bawah. Gambar kedua merupakan model tulisan feature. Dalam feature ada tiga komponen penting yang perlu diperhatikan, yaitu angle, fokus pada 5W+ 1H, dan outline.

Gambar ketiga yang menyerupai grafik di layar monitor ruang ICU rumah sakit, menjelaskan tentang tulisan narasi. Naik-turun, panjang-pendek, menggambarkan tempo serta pengaturan emosi yang di dalamnya ada tokoh, karakter, perjalanan waktu, dan sebagainya. Seperti drama tiga babak, ada pembukaan, klimaks, dan pentutup.

Frendy salah satu peserta merasa ragu apakah semua cerita yang panjang itu benar adanya dan sungguh-sungguh sebuah fakta.

“Faktual adalah salah satu syarat dalam menulis narasi. Ketika ada fiksinya, itu bukan jurnalisme. Namun, bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang sedang berfikir, seseorang sedang sedih atau marah? Tentu melalui wawancara, rekaman, audio, video, dokumen, dan sebagainya. Sehingga kita bisa tahu jam berapa dia menoleh, jam berapa dia menggeser meja. Tidak ada fiksi sama sekali,” terang Andreas.

Salah seorang peserta dari Media Indonesia mengaku kesulitan membuat tulisan panjang, mengingat setiap harinya harus menyetor beberapa berita.

Andreas kemudian memperlihatkan surat kabar harian Kompas.

“Dalam setiap surat kabar, pasti menyediakan kolom untuk tulisan panjang,” katanya sambil menunjukkan dua halaman fokus di Kompas.

“Nah, ini seharusnya bisa digabung karena masih satu topik. Tapi ini dipotong-potong dan yang nulis beda-beda, sehingga kedalamannya berbeda, pemahamannya juga beda, ada yang ngerti, ada yang nggak ngerti. Jangan salah, banyak orang pintar nulis tapi nggak ngerti,” jelasnya lagi.

“Bagaimana caranya agar bisa menulis 33 halaman? Butuh stamina dan cara untuk mengatur dan menggambarkan sebuah kemarahan, cinta, damai, benci, aspirasi. Temponya bisa naik-turun. Naik, turun, lari! Bet bet bet! Ada emosi, ada kegaduhan, lengang atau sepi. Tulisan dibuat layaknya musik. Ada seruling, biola, drum, gitar, dan sebagainya. Itulah narasi,” tambahnya.

“Tapi kata rekan yang kerja di Kompas, pambaca lebih suka dengan tulisan yang pendek-pendek dan gambar karena jadi lebih entertain. Bahkan, orang juga lebih suka gosip,” kata Diana Nugroho.

“Itu benar. Siapa yang tak suka gosip? Hampir semua orang suka gosip. Entah itu gosipnya Ahmad Dani, Tamara atau Roy Martin yang belum lama ini ditangkap lagi karena narkoba. Tapi pertanyaannya apakah gosip itu penting buat hidup kita? Apakah tak lebih penting jika membicarakan harga minyak tanah yang semakin hari semakin naik dan akan membuat perkonomian negara terguncang? Atau soal kemacetan? Memang orang suka gosip, tapi kan hidup mereka tak ada hubungannya dengan kita, bukan?” jawab Andreas.

Tugas wartawan tidak hanya mengikuti atau menuruti keinginan atau sensasi yang diharapkan pembaca. Ada tiga sisi dalam media, yaitu pembaca atau pemirsa, pengiklan, dan masyarakat. Jika hanya akan menuruti sisi pembaca atau pemirsa, maka berita-beritanya akan semakin pendek dan menghibur. Jika hanya mengikuti para pengiklan, kadang mengaburkan prinsip jurnalisme ketika kepentingan pengiklan masuk ke dalam kebijakan redaksi. Padahal banyak topik yang penting bagi masyarakat untuk dikedepankan seperti BBM yang selalu naik, pemerintahan yang korup, partai yang tidak benar, ekonomi, politik, dan sebagainya, yang bisa ditulis dengan menarik sehingga orang mau membaca.

Tentang tiga sisi media, Noorman, pnggilan pemilik nama lengkap Aurelius Norman Ilyas yang bekerja di bagian Public Relation (PR) PT. Bakrie Telecom, mengatakan tidak terlalu peduli apakah itu menyangkut kepentingan masyarakat, pembaca atau pendengar. Dia justru lebih senang untuk memanfaatkan sisi pembaca atau pendengar, yang penting pesannya masuk dan bisa diterima. Bahkan terkadang malah menggunakan publik figur.

Public Relation (PR) dan jurnalisme berada pada daerah yang berbeda. Jurnalisme menyajikan semua informasi kepada pembaca dan membiarkan pembaca punya sikap masing-masing. Tetapi PR atau business leader bertujuan menyajikan informasi supaya orang-orang mengikuti penyewa PR company tersebut. PR atau politisi biasanya punya kecenderungan mengarahkan segala sesuatunya. Sedang jurnalisme tidak.

Bukan sesuatu yang salah jika PR harus menulis. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua tulisan itu jurnalisme. Jurnalisme juga bagian dari komunikasi, tapi komunikasi tidak selalu jurnalisme. Begitu juga propaganda. Ia bagian dari komunikasi tetapi tidak semua komunikasi itu propaganda. Tetap ada perbedaan.

“Kita memaparkan dengan detil soal obrolan dan segala sesuatu tentang sumber yang terkait dengan wawancara. Apa mereka yang diwawancara bisa mengingat setiap detil itu nantinya?” tanya Frendy.

“Dalam mencari narasumber juga perlu mencari tokoh atau karakter yang menarik dan artikulatif. Orang yang artikulatif adalah orang yang bisa menyatakan keinginan diri dan ingatannya dengan jernih. Selain itu akses juga penting. Meskipun karakter tokohnya menarik, kalau tak bisa ditembus dan diwawancara sama saja tak ada artinya,” jawab Andreas.

Dalam narasi juga ada yang disebut Time atau waktu. Waktu seperti video. Peristiwa berjalan bersama waktu. Lalu emosi. Makin kuat emosinya makin potensial untuk bagus. Apalagi kalau yang akan ditulis profil seseorang. Mungkin akan terdapat perbedaan antara orang yang menjalani kehidupan di Singapore dengan yang di Jakarta. Orang cenderung menjalani hidup penuh dengan perjuangan, sedari menghadapi banyaknya konflik hingga kemacetan lalu lintas. Kebaruan juga penting, karena tak ada guna mengulang-ulang sesuatu yang sudah lama. Juga faktual. Semuanya harus benar dan tidak boleh mengarang dengan ditambahi ataupun dikurangi.

“Kalau sedemikian besar usaha dan upaya untuk menulis, sedari verfikasi hingga wawancara dan memilih narasumber, lalu apa yang membuat orang masih mau menulis panjang. Apakah tulisan panjang masih cocok, mengingat budaya kita adalah budaya yang tidak terlalu suka membaca apalagi tulisan panjang,” tanya Frendy.

“Itu tantangan,” Diana langsung menanggapi.

“Saya memang suka membaca buku-buku, seperti novel-novelnya Pram atau cerita Alfian yang sampai bertiarap-tiarap dalam melakukan liputan. Itu yang mau aku pelajarai karena itu lebih hebat dari sekedar menulis stright news dan feature,” papar Eko Rusdianto peserta dari Makassar.

Cerita lain dari Eko soal menulis panjang, “Seorang fotografer pun sering membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk masuk ke pedalaman dan hutan-hutan, mencari gambar yang bagus. Begitu gambar itu dipublikasikan, tentu sambutan yang diperoleh sangat memuaskan.”

Menulis panjang akan membuat orang bisa menganalisis. Buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul The Book That Killed Colonialism mampu mengguncang sendi-sendi peradaban di Eropa. Hal itu membuktikan bahwa sebuah buku juga bisa membakar semangat orang untuk berani berkorban.

“Kalau anda bisa menulis panjang, benar dan kuat. Anda akan seperti dewa. Orang butuh tulisan panjang karena butuh analisisnya dan itu akan selalu dipakai untuk mengambil keputusan,” kata Andreas menegaskan.

Media massa, tak mungkin bisa menyaingi kecepatan internet dan televisi. Orang membutuhkan media karena butuh analisisnya bukan beritanya. Itulah gunanya menulis panjang. Jika ada gempa bumi, tsunami atau kebakaran, orang bisa melihat langsung dari televisi, internet atau sms. Sementara koran masih melaporkan dengan piramida terbalik untuk memberitakan peristiwa itu. Jelas ketinggalan.

“Kenapa mau menulis panjang? Karena kita butuh mengubah sesuatu,” kata Andreas mengakhiri pertemuan malam itu.

*****
Edited by Eva Danayanti

Tujuan Jurnalisme, Mencari Kebenaran
Oleh. Siti Nurrofiqoh

Tanggal 6 November 2007, pukul 18.30, kantor Pantau yang terletak di lantai empat gedung Strategy, Kebayoran Lama, masih diterangi cahaya lampu. Tidak seperti biasa. Kantor yang sehari-harinya hanya dioperasikan dari pukul delapan pagi hingga enam sore itu, masih tampak hidup. Di dalamnya ada sekelompok orang sedang duduk mengelilingi meja bundar. Obrolan dan diskusi kecil terjadi di sana. Andreas Harsono, Eko Rusdianto, Diana Nugroho dan Zamira Eliana Loebis, mereka memperbincangkan banyak hal. Mulai dari soal kasus majalah Times versus Soeharto hingga soal-soal ringan yang kadang juga diselingi canda dan tawa. Hari itu merupakan pertemuan pertama kursus Narasi III. Pantau kembali menyelenggarakan kursus ini untuk yang ketiga kalinya.

Tepat pukul tujuh sesi pertama dimulai. Setelah empatbelas orang peserta: Laksita Wijayanti, Diana Nugroho, Zamira Eliana Loebis, Akbar Abu Thalib, Eko Rusdianto, Mutiara Pasaribu, Sari Peni Nurulyati, Irvan Sihombing, Frendy Kurniawan, IndartiPrimora, Tiurlan Sitompul, Henrykus Sihombing, Lydia Mochtarinda, dan Emmy Kuswandari, di dalam ruang kelas.

Andreas Harsono dan Budi Setiyono, dua orang instruktur kursus Narasi III, memandu peserta untuk saling memperkenalkan diri dan menuliskan blognya. Beberapa peserta juga mengungkapkan harapan dalam mengikuti kursus ini. Mereka berkeinginan bisa menulis panjang.

“Menulis panjang. Setiap kali mendengar itu, saya disadarkan akan beban saya di kelas ini. Kalau saya tidak bisa mengajari anda menulis panjang, berarti saya salah,” kata Andreas menanggapi.

“Kelas narasi ini akan banyak membahas soal studi kasus, teori dan teknik,” ujarnya kemudian.

Andreas lalu menjelaskan tentang jalannya kursus yang baru akan berakhir pada bulan Maret 2008. Setiap pertemuannya sengaja dibuat santai, hingga setiap peserta bebas bertanya. Dalam silabus dicantumkan banyak pekerjaan rumah. Namun, Andreas mengingatkan agar peserta tidak merasa terbebani kalau tidak bisa mengerjakannya. Juga tak perlu merasa bersalah. Tapi boleh merasa rugi.

Andreas juga menjelaskan mengenai bahan-bahan bacaan yang sudah disesuaikan dengan materi-materi setiap sesinya dan di akhir masa kursus ini, peserta diharapkan bisa menulis sepanjang 5000 kata.

Budi Setiyono yang akrab dipanggil Buset juga memberi usulan tentang pemilahan pelajaran, menyangkut hal yang bersifat teknis dan teori. Untuk teori peserta diarahkan ke Andreas, sedangkan teknik kepada dirinya. Meski tidak selalu baku seperti itu. Peserta juga diharapkan mengirim tulisan-tulisan ke milling list Pantau-Narasi agar bisa langsung mendapat feedback dari instruktur maupun tanggapan dari peserta angkatan sebelumnya.

Andreas memulai penyampaian dengan materi Sepuluh Elemen Jurnalisme. Soal bias seorang wartawan maupun penulis. Bias dapat disebabkan oleh latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agama, yang membuat si wartawan atau penulis menghasilkan penafsiran akan kebenaran yang berbeda-beda.

“Semua orang boleh punya pendapat. Tetapi bagaimana seorang penulis mengatasi biasnya?” tanya Andreas.

Menurut Mutiara, bias akan tetap ada. Mungkin yang bisa dilakukan hanya meminimalisir. Saat ditanya Andreas bagaimana cara mengatasinya? Ia menjawab bahwa itu soal pilihan atau sikap si penulis itu sendiri.

“Caranya?” sambung Andreas.
“Bagi saya ini pilihan, sikap kita. Saya secara personal staff comunication dan yang nggak menjadikan itu yang paling utama. Kenapa orang Aceh ingin merdeka? Jawabnya bukan di saya. Itu yang harus dicari,” jawab Mutiara.

Andreas kembali bertanya, “Bagaimana anda bisa obyektif? Dari tadi kan ngomong soal bias. Bias kebangsaan, pendidikan, juga orientasi politik.”

Menurut Eko Rusdianto peserta dari Makassar, salah satu tulisan Andreas yang berjudul Republik Indonesia Kilometer Nol merupakan tulisan yang dapat menghindari bias.

“Di situ penulis menyebutkan soal militer Indonesia di Aceh, bukan TNI dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bukan orang Indonesia dengan orang Aceh,” papar Eko.

“Ini kira-kira masalahnya. Memilih sudut pandang saja jadi masalah. Soal diksi saja kita sudah bias. Menyebut teroris muslim juga jadi masalah,” lanjut Andreas.

Andreas kemudian memaparkan keseluruhan 10 Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Elemen pertama atau tugas pertama adalah memberitakan kebenaran. Tetapi itu pun perlu dipertanyakan. Kebenaran buat siapa? Menurut orang Batakkah? orang Acehkah? Jawabnya bisa iya, bisa tidak. Apakah berita sama dengan kebenaran? Apakah akurat sudah pasti benar? Jawabnya bisa iya, bisa tidak.

Akurat belum tentu benar. Tapi tidak akurat sudah pasti salah. Kebenaran dalam hal ini bukan debat filsafat yang tak berujung. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional, dsb. Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapis demi lapis, tetes demi tetes hingga terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap dan lebih besar.

Tujuan jurnalisme adalah mencari kebenaran. Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi.

“Apakah kebenaran itu sama dengan yang lainnya? Bisa iya, bisa enggak. Masyarakat bisa salah. Mahkamah Agung juga bisa salah. Kayak Mahkamah Agung mengalahkan Time magazine. Mungkin dianggap benar. Tapi kalau kita keluar dari Indonesia, dan mikirnya dari Bangkok misalnya, ya salah. Tapi keputusan itu dibenarkan oleh Mahkamah Agung dan pengadilannya. Berarti sistem hukum kita juga salah,” tegas Andreas seraya melanjutkan pemaparannya.

Di mana fungsinya kebenaran tersebut? Loyalitas praktisi jurnalisme ada pada masyarakat. Tapi bagaimana kalau masyarakat kita salah? Kepada siapa kita memberika loyalitas? Apa kepada PT. Bakrie? Atau kepada pembeli minyak sawit? Jawabnya tidak. Wartawan punya tanggung jawab sosial yang tak jarang bisa melangkahi tanggung jawab terhadap perusahannya.

Kalau tidak berpikir demi kepentingan perusahannya tapi demi orang banyak, hal itu bisa menjadi gengsi bagi masyarakatnya. Wartawan lebih sering memakai apa yang disebut sebagai realisme. Mereka percaya bila seorang reporter menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja, maka kebenaran bakal muncul dengan sendirinya.

”Biarkan masyarakat membuat keputusan dan pilihannya sendiri. Kita tak perlu menggiringnya ke suatu arah tertentu,” kata Andreas menutup pertemuan hari itu pada pukul sembilan malam.

***
Edited by Eva Danayanti

Selasa, 26 Juni 2007

Daoed JOESOEF Bertutur
Oleh Melyyana F. Silalahi

Pertemuan itu sudah berlangsung lebih dari satu minggu yang lalu. Seorang bapak, seorang ibu dan serombongan tamu, peserta kursus narasi baik yang baru maupun kursus yang lalu.

Sabtu siang itu, kursus dilakukan di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda. Kali ini, sebuah rumah yang luas dan sangat asri di selatan Jakarta. Teras belakang yang merupakan tempat bekerja, sudah dirapikan menjadi tempat pertemuan sekitar 20 orang. Kursi-kursi diatur mengelilingi ruangan tersebut, dengan dua meja di tengah-tengah. Sabtu itu cerah, cenderung panas malah. Tidak ada AC di ruangan itu, hanya ada tiga kipas angin.

Di pojok, sebuah meja disiapkan sebagai tempat menaruh makanan. Setumpuk makanan kotak dari Hoka Hoka Bento yang sudah dipersiapkan Mba Fiqoh, kue coklat, kacang mete dari Kendari dan siomay bikinan Hagi ditempatkan di atas meja.

Masih bercerita tentang tulisan dan juga orang yang membuat tulisan itu. Kali ini, langsung berhadapan dengan penulis Emak, sebuah buku yang menggambarkan kearifan dan kebijaksanaan seorang ibu. Daoed JOESOEF penulis yang menjadi tuan rumah.

Berbicara dengan Pak Daoed, seperti bicara dengan "orang-orang dulu". Waktu ditanya Andreas apa kesanku terhadap Pak Daoed, aku harus mengambil waktu dan berkata,"disiplin."

Disiplin dalam segala hal, hal kecil, hal besar, dan terutama disiplin dalam menguraikan isi kepala. Bertutur. Ini ajaran Emak,"Jangan bertutur terlalu cepat, nanti terucapkan hal-hal yang belum kau pikirkan. Kau boleh mengatakan semua, tetapi ucapkanlah itu dengan teratur dan dengan bahasa yang jelas (halaman 92)." Pak Daoed mengulang ini dalam bincang-bincang kami siang itu.

Ini kelemahan terbesarku. Kalau berbicara, aku bisa loncat topik sesukaku. Detik ini bicara tentang makanan, detik kemudian berbicara tentang pesawat. Gak nyambung. Pernah ada seseorang mengkritik aku untuk itu, dan tidak aku perdulikan. Tokh, teman-temanku sudah tahu gaya bicaraku, itu pembelaanku.

Terkadang, ketika terlalu bersemangat, mulut terasa lambat bergerak. Jauh lebih lambat dari isi kepala. Saat seperti itu, aku ingin sekali bis menumpahkan semua sekali jadi. Lepas."Nih, baca dan lihat sendiri, barangkali itu yang ingin aku lakukan untuk bercerita.

Tapi tidak untuk Pak Daoed. Dua jam lebih dihabiskan oleh Pak Daoed untuk bertutur. Tentang banyak hal. Tentang buku. Tentang emak. Tentang Perancis. Tentang keluarga. Tentang rumah. Tentang pendidikan. Tentang banyak hal. Semua diungkapkan dengan penuturan yang disiplin, yaitu dengan teratur, jelas, dan sangat runtut.

Aku pikir, Pak Daoed orang yang bisa jadi sangat puitis, punya jiwa seni yang kuat, dan peka terhadap keindahan, dan punya kemampuan untuk merayu! Jangan berpikir buruk, karena aku pikir itu justru sesuatu yang indah. Aku pikir, laki-laki sebayaku bisa mati gaya dan kalah kata kalau harus bertarung dengan Pak Daoed untuk urusan itu. Tidak sekelas. Sangat jauh berbeda bahkan.

Ini yang membuat diskusi banyak diisi oleh gelak tawa. Juga respek! Ya, pertemuanku membuat aku menjadi sangat hormat padanya. Walaupun ada beberapa pemikiran dan tindakannya yang bisa jadi tidak aku sepakati, Pak Daoed bukan orang yang mengharamkan diskusi, proses dialektis dari berbagai pemikiran, yang berbeda sekalipun. Pak Daoed tegas, tapi bukan tanpa alasan. Tentunya, dengan bertutur.

Aku menemukan keindahan bahasa ibuku dalam Emak. Bahasa Indonesia, yang menurut Pak Daoed,"bahasa yang feminin." Aku menemukan keindahan bertutur melalui Pak Daoed.

Seperti ditulis pada halaman ix buku Emak, Daoed JOESOEF memang orang Indonesia pertama yang oleh Sorbonne dianugerahi gelar doktor tertinggi dari jenisnya yaitu Doctorat d'Etat atau doktor negara, dan dengan cum laude pula (Ini menjadi cerita lucu tersendiri, karena gelar beliau itu doktorandus - ada lebih dari satu gelar doktor - tapi di Indonesia gelar itu diberikan untuk strata S1, dan karena itu Pak Daoed lebih sering tidak menuliskan doktorandus). Tetapi, sosok itu menjadi begitu "kaya" bukan karena gelar semata, tetapi karena cinta dan kasih seorang Emak.

Kamis, 21 Juni 2007

Cerai

Oleh Siti Maemunah

Ratna namanya, tetangga sebelah rumah, saya biasa memanggilnya Kak Ratna meskipun dia tiga tahun lebih muda dari saya. Selasa malam lalu, dia digebukin suaminya - cuma gara-gara anak bungsunya meminta uang seribu Rupiah. Pakaiannya diangkut keluar dan dilempar ke got. “Jangan lagi pulang kerumah” kata suaminya.


Dia sebenarnya perempuan yang ceria, terlihat selalu bersemangat dan ramah. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya sekarang. Tak heran, dia harus merawat 5 anaknya, bersama suami yang setahun terakhir menganggur - kena PHK. Anak sulungnya baru kelas satu SMP. Bulan lalu, dia baru melahirkan anak kelimanya. Begitu si bungsu lahir, dia langsung dibawa pergi orang tua barunya - diadopsi.

Meski setahun lalu suaminya mulai sering melakukan kekerasan, plus ancaman talak satu, kak Ratna tak mau bercerai. “Saya tak mau berpisah dari anak-anak” katanya. “trus jika bercerai, bagaimana saya bisa menghidupi anak saya kelak?” tanyanya.

****
Andai Ratna punya penghasilan tetap sehingga tak bergantung pada keluarga dan suaminya, andai dia berpendidikan tinggi sehingga bisa mengimbangi silang kata suaminya, andai dia jago silat hingga bisa menangkis tamparan dan pukulan suaminya, andai dia hanya punya dua anak sehingga waktunya lebih luang dan tak takut menghadapi hidup berdua anaknya. Andai para tetangganya punya nurani sehingga mencegah suaminya saat melakukan kekerasan.

Sayangnya, Kak Ratna digebukin di hadapan 8 laki-laki muda tetangganya yang menganggap kekerasan dalam rumah tangga adalah urusan keluarga. Sayangnya kak Ratna tak lulus SMA, beranak lima dan menjadi buruh cuci rumahan. Dia juga bukan jago silat dan punya suami tanpa peghasilan tetap.

****
“Pernikahan mestinya berpadunya pasangan bagaikan puzle, saling melengkapi, membuat nyaman - satu sama lain, di masa-masa paling buruk sekalipun”, katamu, terdengar indah.

“Jika kau siap menikah, maka kau juga harus berani bercerai” kata seorang teman.

Saya setuju dengannya, setelah banyak menyaksikan dan mendengar potret kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian disekitar, mulai di kampung halaman ditimur Jawa hingga kota Metropolitan ini. Yang terakhir minggu lalu, cerita Kak Ratna.

Mae - Ecosister, 18 Juni 2007

Kamis, 14 Juni 2007

Sabang, Aku Datang!

Oleh Mellyana Frederika Silalahi

Berbagi saja, ini bukan PR (deskripsi) karena itu belum dikerjakan. Ditugaskan bikin deskripsi kok yang ada malah cerita Aceh ya? Cerita ini ada juga di blogku.

Minggu ini, aku punya pekerjaan rumah untuk membaca “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono, “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah, “Panglima, Cuak, dan RBT” dan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” karya Chik Rini, dan “Orang-orang Di Tiro” karya Linda Christanty.

Semua berbicara tentag Aceh dari berbagai sudut dan cara bercerita. Karya Chik Rini “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” sudah kubaca jauh-jauh hari, sewaktu aku membaca buku Jurnalisme Sastrawi, berbarengan dengan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah. Keduanya, bercerita banyak tentang Aceh sewaktu menjadi daerah operasi militer. Banyak bercerita tentang bentrokan GAM dan TNI. Peristiwa yang diceritakan Chik Rini diketahui secara umum, karena menyangkut wartawan media televisi, sedangkan Alfian Hamzah lebih banyak bercerita tentang suka duka tentara Indonesia di Aceh.

Tiga cerita lain aku baca selama seminggu ini. Masih tentang Aceh. Terkait dengan konflik yang terjadi selama tahunan di Serambi Mekah tersebut. Hanya ketika membaca “Republik Indonesia Kilometer Nol” aku teringat dengan Banda Aceh sebagai tempat tinggal selama sementara waktu,
Sekitar satu tahun yang lalu.

Ya, persis setahun lalu, aku sempat tinggal di Banda Aceh untuk beberapa waktu. Apa yang aku alami disana, berbeda dengan Alfian. Juga berbeda dengan Chik Rini, Linda dan Andreas, walaupun sebetulnya kondisi yang mereka tulis sangat berpengaruh dengan situasi di pertengahan 2006 itu.

Ceritaku saat itu malah lebih banyak mengenai berbagai tempat makan di Banda Aceh. Tsunami, telah membuat beberapa hal berbeda, walaupun tidak berarti masalah selesai. Justru, ada beragam masalah baru yang muncul.

Tapi aku ingin sekali bercerita tentang sesuatu yang berbeda. Tentang Sabang, yang memukau hati aku. Ya, tulisan Andreas membuat aku mengenang kunjungan singkatku ke Sabang.

Setelah tsunami, di saat ada begitu banyak orang dari berbagai tempat di pelosok bumi berkumpul di Banda Aceh, maka Sabang bagi mereka yang ada di Banda Aceh adalah seperti Bandung bagi orang Jakarta.

Setidaknya, itu yang aku rasakan.

Begitu datang di Banda Aceh, banyak orang yang aku temui mendorong aku ke Sabang. Karena,”tanggung, Mel, udah sampe sini kok gak ke Sabang,” belum lagi iming-iming,”disana menyenangkan gak kayak di sini (Banda Aceh),” dan terakhir tentu saja dorongan untuk mengunjungi Kilometer Nol.

Semuanya sebetulnya tidak membuat aku ngotot ke Sabang. Entah kenapa, tidak ada keinginan menggebu untuk melihat kilometer nol. Itu pikirku.

Diam-diam ke Sabang
Tapi aku tetap berangkat. Dengan rencana agak mendadak. Dengan agak sembunyi-sembunyi. Saat itu, aku butuh beristirahat. Aku sakit, diduga typhus, yang muncul dengan dugaan penyebab kebiasaan begadang dan makan tidak teratur tentunya. Sebagai orang yang biasa mendengar,”Mba gak pusing, tekanan darahnya hanya 90/60,” tentu saja kaget tidak kepalang waktu dikasih tahu bahwa kali itu tekanan darahku menjadi 130. Hmmm, beban perkerjaan yang tinggal 2 minggu sebelum berakhir? Bisa jadi.

Alasan butuh menyegarkan jiwa raga di saat tuntutan laporan sedang kencang-kencangnya menjadi alasan yang kuat untuk pergi ke Sabang. Tidak terlalu direncanakan, karena rencana terbaik untuk perjalanan ke Sabang adalah tanpa rencana.

Sebetulnya bukan tanpa rencana sama sekali, karena sehari sebelum rencana keberangkatan, yaitu hari Jumat, aku meminta supir dan kendaraan untuk berangkat duluan ke Sabang. Ini tips dari teman-teman yang sudah lebih lama tinggal disana. Maklum, perjalanan Banda Aceh – Sabang bisa ditempuh dengan dua kapal. Kapal pertama adalah kapal cepat yang berangkat.

Beberapa kali dalam sehari, tapi tanpa kendaraan. Kapal kedua, hanya berangkat satu kali sehari, kapal lambat yang membawa kendaraan.

Sejak ke Sabang menjadi salah satu kegiatan akhir pekan favorit para pekerja tsunami di Banda Aceh, sering sekali banyak mobil yang tidak bisa diangkut. Permintaan lebih besar daripada kemampuan membawa mobil. Bisa dibayangkan, kan! Belum lagi kalau ambil contoh mobil yang umum dipakai saat itu adalah mobil 4wheel, begitu istilahnya, untuk menggambarkan mobil-mobil besar, dengan roda besar yang tahan dengan banyak kondisi topografi dan jalanan hancur.

Alasan kedua kenapa aku tetap pergi kesana adalah iming-iming snorkelling dari beberapa teman. Membayangkanya membuat aku cukup nekad meninggalkan Banda Aceh dengan tumpukan pekerjaan untuk sejenak menghirup udara Sabang.

Hampir saja tidak jadi, waktu Bang Ramadan, supir kami, melapor kalau antrian sudah super panjang dan dia tidak dapat tempat di kapal laut Jumat sore ini. Sedih sekali. Tapi malam hari kami putuskan, tidak apa-apa. Bang Ramadan akan menyusul di Sabtu siang, dan kita bisa bertemu Bang Ramdan sore-sore Sabtu di kota.

Kami memutuskan itu, aku dan boss aku, Pak Ramli, Mba Okol, Mba Uli, Mas Aji, dan satu kawan lagi.

Sabtu pagi itu, kami harus bergegas ke pelabuhan karena Bang Ramadan harus mengantri sepagi mungkin. Bayangkan jam 8.30 kami sudah di pelabuhan, padahal Iwing, temanku yang lain, sudah bilang jadwal kapal jam 9.30 bukan jam 8.30. Iwing benar. Kami menghabiskan waktu di pelabuhan, melihat berbagai orang yang datang mengantri tiket ke Sabang.

Aku mencoba mengidentifikasi, mana pegawai BRR, mana pegawai NGO luar Aceh, mana orang yang pertama ke Sabang, mana yang memang orang Sabang yang pulang ke rumah setelah seminggu bekerja di Banda Aceh.

Kelompok BRR umumnya datang dalam jumlah besar, sebagian besar rombongan adalah orang dari Jakarta. Rambut mereka berwarna-warni, coklat terang dan burgundy adalah warna yang paling menonjol. Jangan heran, kalau aku bisa melihat warna rambut, karena tidak ada jilbab yang dipakai, kalaupun ada, selendang itu hanya diselempangkan. Jaga-jaga kalau ada polisi syariah barangkali. Belum lagi kacamata hitam besar, istilahku “kacamata segede bagong” bertengger di mata atau kepala mereka. Lengkap dengan sendal pantai yang cantik. Betul-betul pemandangan turis pantai.

Kelompok bule-bule NGO sudah kelihatan dari warna kulit mereka. Palingan bisa dibedakan yang sudah biasa ke Sabang dan yang baru pertama kali. Bule ini diantar supir dan tentu saja sudah ditunggu supir lain di seberang sana. Seragamnya juga mirip, celana selutut dengan baju kaos berlengan pendek. Ya, mereka punya sedikit kemewahan berpakaian, karena bisa berpakaian sedikit lebih terbuka dibandingkan orang-orang lokal.

Kelompok selanjutnya pekerja-pekerja seperti aku, datang dari berbagai lembaga yang begitu banyak jumlahnya di Banda Aceh. Ada yang datang dengan kendaraan roda empat berstiker nama lembaga, dan sedikit yang datang dengan angkutan umum atau kendaraan tanpa stiker. Aksen bicara dan pakaian tetap menjadi penanda bahwa aku bukan penduduk tetap Banda Aceh.

Kelompok terakhir adalah penduduk. Penampilannya berbeda. Datang bisa dengan motor becak, tapi juga ada juga yang datang dengan mobil berstriker. Stiker nama kantor mereka. Berarti mereka kerja di organisasi non-pemerintah.

Sabang, aku datang!
Kesan pertamaku, Sabang daerah perbukitan yang tenang.

Kesan kemudian setelah aku tiba di kota, Sabang menyenangkan. Sangat menyenangkan

Aku memulai perjalanan di kota, dan bukan ke Gapang, tempat favorit kunjungan para pekerja tsunami. Dan, kota Sabang mencuri hatiku.

Bayangkan gunung, bukit yang tinggi. Jalan kota yang naik turun karena topografinya. Jalan aspal yang mulus. Dengan pepohonan di kiri kanan, dan pemandangan teluk Sabang menyempil di sela-sela dedaunan. Pemandangan yang sudah dimulai setelah melewati pelabuhan. Air laut kebiruan mengintip dari sela-sela bukit-bukit. Angin semilir berhembus, agak hangat memang.

Begitu tiba di kota, rasanya begitu adem. Sungguh, tidak kalah dengan kota-kota kecil Eropa. Begitu tenang. Begitu damai. Berjalan kaki di pedestrian yang terawat, di kiri kanan jalan. Dari sebuah losmen kecil menuju ke pusat kota yang terletak lebih ke bawah. Losmen itu terletak di daerah cukup tinggi, perjalanan ke pusat kota terus menurun. Karena itu, aku dan teman-teman memutuskan untuk berjalan kaki saja. Menyenangkan sekali. Di satu titik, aku hanya ingin membaringkan tubuhku di rumput hijau yang segar itu, dengan langit dan dedaunan jauh di atas kepalaku, menjadi atapku.

Dan, pusat kota Sabang jauh lebih memukau. Ada satu ruas jalan dengan jajaran toko berderet rapi. Lantai trotoar dibuat dari ubin jaman dulu, yang berbentuk segi 5 berwarna abu-abu, atau terkadang hanya sekedar tegel abu-abu yang usianya lebih tua dari aku. Di beberapa lokasi, terdapat pohon yang membuat suasana teduh. Tidak terlalu bising karena tidak banyak kendaraan lalu lalang. Kemudian kami tahu, disini masih menganut istilah jam tidur siang. Tidak heran suasana siang itu relatif sepi.

Aku yang lapar memutuskan untuk makan disitu. Duduk di trotoar yang luas, di meja yang mampu menampung 8 orang yang lapar. Duduk sambil berfoto-foto. Turis banget.

Tidak terasa lebih dari satu jam kami habiskan disitu, tak lama ada kendaraan seorang teman datang menjemput. Kami bergegas. Gapang, menjadi tujuan selanjutnya.

Mengintip dunia bawah laut Gapang
Perjalanan kota ke Gapang memakan waktu lebih dari 1 jam. Kami melewati gunung, jalan berliku dengan bukan hanya pohon yang kami lihat tetapi juga monyet. Itu daerah yang banyak ditinggali monyet. Sudah tahu turis rupanya. Monyet-monyet ini berharap mendapatkan kacang atau pisang yang memang dijual di pinggir jalan. Ada trik khusus yang harus diketahui, untuk menghindari monyet tersebut terus menerus mengikuti mobil.

Untunglah mereka tidak terus menerus mengikuti kendaraan yang kami tumpangi. Setidaknya kami sempat berhenti dan mengambil foto di satu tanjakan. Foto aku dan teman-teman dengan latar belakang Teluk Sabang. Sedikit mengingatkanku dengan Danau Toba, bedanya ini bukan danau tapi laut. Hijau, putih dan biru.

Kami juga sempat berhenti di satu warung. Membeli rujak dan minum. Enak! Lagi-lagi sambil disuguhi pemandangan laut. Warungnya sendiri sangat sederhana. Terletak di sebuah pengkolan, agak tinggi, dengan kayu sederhana. Cukuplah untuk menahan hujan. Kursi sedikit miring, meja sedikit miring. Konstruksi memang dibuat secara sederhana. Di sebuah sudut, ada sebuah foto Sabang di masa jaya. Saat itu banyak kapal dari luar Indonesia berlabuh disana. Foto itu hitam putih, diambil dari sudut yang hampir sama dengan lokasi aku duduk saat itu. Kalau tidak salah, ada angka 1926 di atas foto tersebut. Sayang, itu hanya satu-satunya foto dan kami tidak bisa membelinya.

Foto itu, seperti foto pelabuhan yang ramai yang sering diperlihatkan film-film Holywood. Rasanya sulit membayangkan bahwa Sabang pernah begitu ramai sekian puluh tahun yang lalu. Kapal besar itu tidak hanya ada satu atau dua, tapi banyak sekali. Pemuda berusia di akhir 20-an itu tidak bisa bercerita banyak tentang foto itu, ia hanya banyak tersenyum.

Tidak jauh dari situ, kami mampir ke sebuah danau air tawar yang sedikit tersembunyi. Tantangan untuk berenang menyeberang tidak ditanggapi. Aku hanya terdiam menikmati keheningan yang begitu syahdu. Matahari terik sekali, tapi angin sejuk bertiup di tempat itu. Mengajak aku untuk menari bersama angin.

Gapang
Masuk ke wilayah Gapang, ada dua daerah yang agak terpisah. Daerah yang lebih menjorok ke dalam diperuntukan untuk para bule. Khusus untuk snorkelling. Untuk pertama kali, di Aceh, aku bisa mempergunakan celana pendek dan kaos tank top. Dengan modal masker, aku mulai mengintip ke bawah air. Hanya seputaran Gapang. Dan, oh, indah sekali. Ikan berwarna-warni, dan berbagai mahluk air begitu banyak. Airnya jernih sehingga aku bisa dengan mudah melihat mahluk karya Tuhan di dalam air tersebut. Sayang, aku tidak bisa mengingat nama-namanya. Satu yang aku ingat, bulu babi, aku harus hindari yang satu itu.

Selama aku bermain disana, ada seorang perempuan yang begitu aktif dan ceria. Ia bersama anjing-anjingnya, menghampiri orang-orang yang duduk-duduk di pantai. Umurnya barangkali sudah lebih dari 60 tahun. Badannya kurus. Tapi senyumnya lebar dan menawan. Dia lebih banyak mengajak bicara para bule yang ada disana.

Waktu terlalu cepat berlalu. Magrib segera datang, dan kami memutuskan untuk segera ke kota. Aku melihat sebagian besar pengujung pantai menginap di bungalow di seputaran pantai. Memang, pilihan itu adalah pilihan umum. Terutama bagi mereka yang memang mengejar kegiatan diving dan snorkeling di Gapang.

Mie Pangsit
Di kota, kami memutuskan untuk makan mie pangsit yang sudah direkomendasikan oleh seorang kawan. Rasanya? Enaksekali. Mie kuning dengan sedikit kuah yang gurih, ditemani pangsit. Tidak ada baso. Tidak ada seledri atau bawang. Ringan. Membuat aku ingin tambah satu piring lagi. Dan, memang aku tambah satu piring lagi. Bukan itu saja, tawaran makan seafood dibatalkan karena perut kenyang, dan aku memutuskan untuk beristirahat. Teman-teman yang masih bersemangat, memilih ikut nonton bersama. Ada acara Piala Dunia yang disiarkan langsung di sebuah televisi lokal. Mereka, berkumpul semua disitu.

Sabang membuat aku bukan hanya kenyang karena mie pangsit, tapi juga segar kembali. Beneran, deh.

Ini yang aku tulis sewaktu aku di Gapang:
Gapang, Sabang, 11 Juni 2006
Jam 11.15 siang

Siang ini, aku di pantai di Gapang, Sabang, Pulau lokasi nol kilometer Republik Indonesia.

Lautnya hijau kebiruan. Ada berbagai warna menghiasi laut di depan mataku. Warna hijau bening, terus menjadi biru, Satu dua perahu nelayan tertambat, menunggu mereka yang berkeinginan snorkelling agak ke tengah lautan. Beberapa perahu baru saja datang dengan serombongan orang, yang mungkin sudah pergi sejak pagi tadi. Melihat matahari pagi barangkali. Karena saat ini, matahari mudah menunjukkan kekuasaannya. Panasnya menyengat.

Tetapi aku tidak takut kepanasan (makasih sunblock mba’e). Karena ada keteduhan dari pohon-pohon waru di sepanjang pantai, memberiku ketenangan, kedamaian. Angin semeliwir, mengusap rambut-rambut kecilku yang tidak mampu diikat oleh jepit rambut ini. Rasanya nikmat, membelai mukaku, badanku, lenganku, kakiku. Semuanya. Begitu indah.

Suara debur ombak yang datang bergantian, bagaikan ada komando yang membuat mereka datang satu satu sesuai gilirannya, kadang terdengar sayup, kadang terdengar garang. Bertalu-talu mengajak aku untuk segera menjejakkan kakiku ke airnya, menyelusuri lebih jauh karang-karang di baliknya. Snorkeling.

Tapi matahari masih terlalu terik. Aku masih lebih memilih untuk tiduran. Beralaskan pasir putih yang dingin. Yang tiap tiap butirannya mengelus setiap senti kulitku. Butir-butir kasarnya seakan dengan lembut melemaskan setiap persendianku. Melepaskan setiap ketegangan yang selama ini ada di seluruh sendiku. Memaksa aku melepas setiap bebanku. Keluar melalui genggaman pasir putih ini.

Aku menutup mata, menikmati semua. Air hijau kebiruan yang bening ini. Langit biru luas ini. Debur ombak ini. Angin semiliwir ini. Keteduhan ini. Pasir putih ini.

Aku menutup mata, memulai tombol “record”. Suatu saat, pasti akan kuputar kembali, untuk membawaku kembali ke ketenangan ini.